Men Mental Health Awareness Month
Tulisan ini ditulis bertepatan dengan berakhirnya bulan Juni, sebenarnya tulisan ini lebih ke keluh kesah saya sebagai seorang pria, yang aslinya tidak memiliki banyak teman dekat. Seringkali lebih memilih untuk diam dan memendam semua perasaan yang kemudian akhirnya bikin diri sendiri berlarut dalam perasaan tersebut. Sebenarnya lebih ke arah dimana saya tidak punya tempat untuk meluapkan segala perasaan yang sedang dialami.
Jika disuruh memilih antara duduk melingkar dengan beberapa orang untuk melemparkan topik, atau sekadar duduk diam di balkon atau teras rumah, saya akan memilih opsi yang kedua tanpa ragu. Mungkin karena saya nyaman dengan kesendirian, sebagai seorang introvert akut. Tapi ini hanya intermezzo saja.
Bagi saya, kesendirian memang terasa nyaman. Tapi tentu tidak semua orang merasakannya. Bahkan menurut survei, hanya sekitar 27% pria yang punya lebih dari satu teman dekat. Memang saya punya banyak teman, namun tidak semuanya saya anggap sebagai teman dekat. Definisi teman dekat bagi saya adalah orang yang sering kita temui dan rela mendengarkan keluhan saya kapanpun. Itu definisi menurut saya, wajar jika ada yang berbeda pendapat. Oleh karena itu, terkadang saya sering menggunakan media sosial sebagai tempat pelarian saya untuk meluapkan keluh kesah, sama halnya dengan menulis di blog pribadi saya.
Entah sejak kapan, di suatu titik, saya merasa malahan hidup saya berasa seperti seorang robot. Kehidupan dengan siklus yang hampir sama setiap harinya. Rutinitas yang berulang setiap hari, hanya obrolan dangkal dengan orang yang kutemui. Mungkin bagi saya hal tersebut terlihat sangat normal, tapi ternyata tidak untuk sebagian orang. Ternyata kehidupan seperti itu bukanlah hal yang wajar. Terkadang saya juga sering berpikir bahwasanya perlu sesekali untuk keluar, bertemu dengan teman, mengobrol sembari makan siang, ataupun melakukan kegiatan lain yang setidaknya dilakukan secara berkelompok oleh orang-orang pada umumnya.
Nyatanya tidak.
Saya merasa bahwa kegiatan-kegiatan semacam itu malahan menguras habis energi dan isi kepala kita. Sehingga mengurung niat kita untuk mengajak orang untuk bermain bersama kita.
Seringkali saya sebagai seorang pria, lebih memilih diam dan tidak mengekspresikan apa yang sedang dirasakan saat ini. Mendapati diri selalu membatin dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja dan akan berlalu dengan sendirinya. Ternyata itulah kesalahan yang paling besar yang akan dihadapi di kemudian harinya, Sebenarnya kita hanya membutuhkan ruang yang cocok untuk membiarkan diri kita untuk melepaskannya. Apapun caranya bagi kita, selama itu merupakan cara yang postif. Hasil yang keluar dipastikan juga akan membuat diri kita menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Hal itulah yang sedang saya coba terapkan dalam diri saya ini. Terkadang memang diam dan menyendiri adalah hal terasik bagi diri saya untuk mengembalikan energi yang telah keluar dari diri ini selama ada dalam masyarakat, contohnya seperti ketika acara sosialisasi, reuni, atau bahkan hanya kumpul asik dengan teman-teman kuliah. Saya terbiasa sesekali keluar sebentar dari kumpulan itu dengan dalih untuk mencari angin segar. Sejatinya itu merupakan cara saya untuk berhenti sejenak dan membiarkan diri saya memiliki ruang untuk merefleksi diri dan menghilangkan kecemasan.
Hingga pada akhirnya, cara satu-satunya untuk melepaskan diri dari itu semua hanyalah dengan cara mengenali diri kira sendiri. Tujuan utamanya sudah jelas untuk mengetahui apa sebenarnya yang sedang dicari atau bahkan yang sedang kita butuhkan. Sejujurnya hal tersebut agak sulit bagi diri saya yang merasa bahwa pengekspresian diri setidaknya membutuhkan effort yang sangat besar secara pribadi. Meskipun terkadang orak kita merasa bisa menolak, lain dengan diri kita yang merasa ternyata hal tersebut sangat penting bagi jiwa dan raga yang lebih sehat. Memendam perasaan ketika sedang sedih, marah atau bahkan bahagia sekalipun bisa terasa mematikan jika tidak diungkapkan dengan cara yang baik. Akhirnya saya sebagai pribadi yang seringkali memendam perasaan, secara perlahan akhirnya mencoba untuk belajar bagaimana memahami pribadi sendiri.
Pada dasarnya semua hanya berdasarkan ketidakmampuan. Bagaimana diri kita tidak bisa mengekspresikan perasaan dengan benar dan bagaimana diri kita mampu untuk meluapkannya dengan baik. Kita juga sebagai manusia harus bisa membangun jembatan yang baik bagi kita untuk menyalurkan perasaan kita, baik bagi kita pribadi maupun bagi orang lain. Layaknya pria-pria diluar sana yang merasa bagaimana untuk tetap menjadi pribadi yang dominan dan terlihat perkasa, namun isi di dalamnya sangat rapuh. Hal tersebut sama saja dengan ingin membangun sebuah gedung yang terlihat besar dan tinggi, namun pondasinya tidak mumpuni, sehingga akan ada masa dimana bangunan tersebut rubuh. Hal tersebut memang tidak akan terjadi dalam waktu yang singkat, namun waktu tersebut pasti akan datang dengan sendirinya. Semua hanya tergantung pada waktunya.
Kadang rasa aman muncul ketika tidak banyak berbicara, tapi cukup bersama. Ritual ini juga bisa menjadi sebuah jebakan: karena tak pernah menyentuh lapisan yang lebih dalam terhadap pribadi masing-masing. Hadirnya mental awareness month ini bukan hanya sekadar pengingat, tapi juga hadir sebagai sebuah pengingat bagi tiap pribadi yang merasakan hal yang sama. Hal ini tidak hanya hadir dalam bukti fisik, tetapi juga menyentuh dari perasaan masing-masing.
Pada akhirnya, menjadi pribadi yang penyendiri atau pendiam bukanlah tanda kelemahan. Tapi jangan malah menjadikan hal tersebut membelenggu dirimu dan tidak membiarkan dirinya bebas dan lepas. Ada suatu masa dimana kita perlu sesekali menjadi pribadi yang lebih berani. Tidak peduli bagaimanapun situasimu saat itu. Jika ada sesuatu yang dirasa bukan hal yang normal ataupun rasa yang mengganjal dalam dirimu, jangan biarkan itu terpendam selamanya.
Mental Health Awareness Month bukan hanya sekedar sebuah perayaan, tapi menjadi panggilan bagi diri kita untuk mulai merefleksi. Cobalah untuk tidak malu dan mulai berani bicara. Karena dalam cerita sederhana kita, ada fragmen besar yang bisa menyelamatkan kita.
Medan 30 Juni 2025
Leandro