Pages

Senin, 01 Desember 2025

MENULIS SEKALI DUDUK #0

Menulis sekali duduk merupakan konsep untuk diri saya sendiri yang bertujuan untuk mengasah penulisan saya. Media yang dipiih adalah blog, karena dirasa akan lebih mudah untuk membagikannya kemana saja, dengan interface yang bisa kita utak-atik sendiri.

Dalam judul MSD ini, saya tidak menggunakan tata cara menulis yang baik dan benar, serta semuanya menggunakan konsep 1 topik 1 blog. Jadi saya mengatur cara mainnya seperti ini:
1. MSD ditulis berdasarkan 1 topik atau 1 tema yang akan saya tentukan di hari itu.
2. Penulisan dari MSD akan saya lakukan dalam sekali duduk. Benar-benar dalam sekali duduk saya akan menulis apapun yang lewat di kepala saya berdasarkan tema yang telah ditentukan. 
3. Dalam sekali duduk, saya akan mengukur waktu menulis, misalnya ketika mendengarkan satu album/ playlist, atau bahkan saya akan mengukurnya dengan stopwatch, sehingga saya dapat mengukur seberapa jauh saya dapat menulis. 

Tujuan menggunakan kondisi-kondisi di atas, adalah untuk mengetahui sebesar apa kemampuan saya dalam menulis sesuai dengan apa yang telah ditentukan. Hal tersebut menurut saya dapat membantu perkembangan dan mengasah saya dalam menulis dengan lebih baik dan benar.
Hasil dari penulisan tersebut bisa dalam berbagai macam bentuk. Bisa saja berbentuk sastra seperti cerpen, menulis puitis, dan sejenisnya. Atau bahkan tulisan saya bisa berbentuk jurnalistik berdasarkan apa saja tema yang saya tentukan di hari itu. 


Sekian sedikit kata untuk memulai bagaimana konsep ini akan berjalan kedepannya. 
Saya hanya berharap satu hal saja.
KONSISTEN

Semoga berjalan dengan baik. 

Selasa, 01 Juli 2025

PIKIR PIKIR DIPIKIR LAGI #6

Akhir akhir ini jadi kepikiran untuk mulai nulis lagi. Rasanya semua kegiatan yang udah dilalui kok berasa cepat belakangan ini. Semuanya berakhir hanya di kepala sendiri. Menulis mungkin menurut saya menjadi satu-satunya wadah untuk meluapkan semua perasaan lagi dan lagi. Kayaknya menulis di blog ini layaknya galeri pribadi yang pelan-pelan saya isi dengan berbagai macam tulisan. 

Kadang juga merasa, sebenarnya nulis blog udah mirip kaya nulis curhatan. Karena seiring berjalannya waktu perasaan yang dialamin tiap hari udah campur aduk, gak tahu mana yang layak ditulis atau tidak. Tapi setiap porsi yang dibagikan seharusnya sudah saya yakini aman untuk dituang dalam bentuk tulisan. 


Nulis buat saya jadi sebuah persiapan lebih bagaimana dikemudian hari saya bisa mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik. Menurut saya dengan menulis saya dapat mencari lebih banyak arti sebuah kalimat. Walaupun terkadang membutuhkan pencarian lebih lanjut apakah kata tersebut cocok ketika dimasukkan dalam kalimat yang saya gunakan. Disanalah otak disuruh bekerja lebih. Saya juga berusaha untuk membuat tulisan dalam sekali duduk tanpa berhenti. Itu mungkin jadi salah satu cara saya untuk berlatih bagaimana untuk menciptakan sebuah tulisan yang panjang tanpa memikirkan efektivitas dari tulisan tersebut. 

Saya ingin mencoba setiap harinya mencoba untuk menulis satu blog dalam sekali duduk, dengan tema, topik dan pembahasan apapun dalam sekali duduk. Saya merasa bahwa hanya hal tersebut yang dapat melatih imajinasi saya dalam menyusun kata kata menjadi sebuat kalimat yang layak dibaca. Baik itu dalam bentuk curhatan, pemikiran, atau bahkan hanya sekedar tulisan basa-basi. 

Yahhh, semoga niat ini dapat berlangsung panjang, entah sampai kapapun pun, setidaknya saya masih punya niatan untuk nulis. Sekian


Medan, 1 Juli 2025


Leandro


Senin, 30 Juni 2025

PIKIR PIKIR DIPIKIR LAGI #5

 Men Mental Health Awareness Month

Tulisan ini ditulis bertepatan dengan berakhirnya bulan Juni, sebenarnya tulisan ini lebih ke keluh kesah saya sebagai seorang pria, yang aslinya tidak memiliki banyak teman dekat. Seringkali lebih memilih untuk diam dan memendam semua perasaan yang kemudian akhirnya bikin diri sendiri berlarut dalam perasaan tersebut. Sebenarnya lebih ke arah dimana saya tidak punya tempat untuk meluapkan segala perasaan yang sedang dialami. 

Jika disuruh memilih antara duduk melingkar dengan beberapa orang untuk melemparkan topik, atau sekadar duduk diam di balkon atau teras rumah, saya akan memilih opsi yang kedua tanpa ragu. Mungkin karena saya nyaman dengan kesendirian, sebagai seorang introvert akut. Tapi ini hanya intermezzo saja.

Bagi saya, kesendirian memang terasa nyaman. Tapi tentu tidak semua orang merasakannya. Bahkan menurut survei, hanya sekitar 27% pria yang punya lebih dari satu teman dekat. Memang saya punya banyak teman, namun tidak semuanya saya anggap sebagai teman dekat. Definisi teman dekat bagi saya adalah orang yang sering kita temui dan rela mendengarkan keluhan saya kapanpun. Itu definisi menurut saya, wajar jika ada yang berbeda pendapat. Oleh karena itu, terkadang saya sering menggunakan media sosial sebagai tempat pelarian saya untuk meluapkan keluh kesah, sama halnya dengan menulis di blog pribadi saya. 

Entah sejak kapan, di suatu titik, saya merasa malahan hidup saya berasa seperti seorang robot. Kehidupan dengan siklus yang hampir sama setiap harinya. Rutinitas yang berulang setiap hari, hanya obrolan dangkal dengan orang yang kutemui. Mungkin bagi saya hal tersebut terlihat sangat normal, tapi ternyata tidak untuk sebagian orang. Ternyata kehidupan seperti itu bukanlah hal yang wajar. Terkadang saya juga sering berpikir bahwasanya perlu sesekali untuk keluar, bertemu dengan teman, mengobrol sembari makan siang, ataupun melakukan kegiatan lain yang setidaknya dilakukan secara berkelompok oleh orang-orang pada umumnya. 

Nyatanya tidak. 

Saya merasa bahwa kegiatan-kegiatan semacam itu malahan menguras habis energi dan isi kepala kita. Sehingga mengurung niat kita untuk mengajak orang untuk bermain bersama kita. 

Seringkali saya sebagai seorang pria, lebih memilih diam dan tidak mengekspresikan apa yang sedang dirasakan saat ini. Mendapati diri selalu membatin dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja dan akan berlalu dengan sendirinya. Ternyata itulah kesalahan yang paling besar yang akan dihadapi di kemudian harinya, Sebenarnya kita hanya membutuhkan ruang yang cocok untuk membiarkan diri kita untuk melepaskannya. Apapun caranya bagi kita, selama itu merupakan cara yang postif. Hasil yang keluar dipastikan juga akan membuat diri kita menjadi lebih baik dari sebelumnya. 

Hal itulah yang sedang saya coba terapkan dalam diri saya ini. Terkadang memang diam dan menyendiri adalah hal terasik bagi diri saya untuk mengembalikan energi yang telah keluar dari diri ini selama ada dalam masyarakat, contohnya seperti ketika acara sosialisasi, reuni, atau bahkan hanya kumpul asik dengan teman-teman kuliah. Saya terbiasa sesekali keluar sebentar dari kumpulan itu dengan dalih untuk mencari angin segar. Sejatinya itu merupakan cara saya untuk berhenti sejenak dan membiarkan diri saya memiliki ruang untuk merefleksi diri dan menghilangkan kecemasan. 


Hingga pada akhirnya, cara satu-satunya untuk melepaskan diri dari itu semua hanyalah dengan cara mengenali diri kira sendiri. Tujuan utamanya sudah jelas untuk mengetahui apa sebenarnya yang sedang dicari atau bahkan yang sedang kita butuhkan. Sejujurnya hal tersebut agak sulit bagi diri saya yang merasa bahwa pengekspresian diri setidaknya membutuhkan effort yang sangat besar secara pribadi. Meskipun terkadang orak kita merasa bisa menolak, lain dengan diri kita yang merasa ternyata hal tersebut sangat penting bagi jiwa dan raga yang lebih sehat. Memendam perasaan ketika sedang sedih, marah atau bahkan bahagia sekalipun bisa terasa mematikan jika tidak diungkapkan dengan cara yang baik. Akhirnya saya sebagai pribadi yang seringkali memendam perasaan, secara perlahan akhirnya mencoba untuk belajar bagaimana memahami pribadi sendiri. 

Pada dasarnya semua hanya berdasarkan ketidakmampuan. Bagaimana diri kita tidak bisa mengekspresikan perasaan dengan benar dan bagaimana diri kita mampu untuk meluapkannya dengan baik. Kita juga sebagai manusia harus bisa membangun jembatan yang baik bagi kita untuk menyalurkan perasaan kita, baik bagi kita pribadi maupun bagi orang lain. Layaknya pria-pria diluar sana yang merasa bagaimana untuk tetap menjadi pribadi yang dominan dan terlihat perkasa, namun isi di dalamnya sangat rapuh. Hal tersebut sama saja dengan ingin membangun sebuah gedung yang terlihat besar dan tinggi, namun pondasinya tidak mumpuni, sehingga akan ada masa dimana bangunan tersebut rubuh. Hal tersebut memang tidak akan terjadi dalam waktu yang singkat, namun waktu tersebut pasti akan datang dengan sendirinya. Semua hanya tergantung pada waktunya. 


Kadang rasa aman muncul ketika tidak banyak berbicara, tapi cukup bersama. Ritual ini juga bisa menjadi sebuah jebakan: karena tak pernah menyentuh lapisan yang lebih dalam terhadap pribadi masing-masing. Hadirnya mental awareness month ini bukan hanya sekadar pengingat, tapi juga hadir sebagai sebuah pengingat bagi tiap pribadi yang merasakan hal yang sama. Hal ini tidak hanya hadir dalam bukti fisik, tetapi juga menyentuh dari perasaan masing-masing. 

Pada akhirnya, menjadi pribadi yang penyendiri atau pendiam bukanlah tanda kelemahan. Tapi jangan malah menjadikan hal tersebut membelenggu dirimu dan tidak membiarkan dirinya bebas dan lepas. Ada suatu masa dimana kita perlu sesekali menjadi pribadi yang lebih berani. Tidak peduli bagaimanapun situasimu saat itu. Jika ada sesuatu yang dirasa bukan hal yang normal ataupun rasa yang mengganjal dalam dirimu, jangan biarkan itu terpendam selamanya. 


Mental Health Awareness Month bukan hanya sekedar sebuah perayaan, tapi menjadi panggilan bagi diri kita untuk mulai merefleksi. Cobalah untuk tidak malu dan mulai berani bicara. Karena dalam cerita sederhana kita, ada fragmen besar yang bisa menyelamatkan kita.


Medan 30 Juni 2025


Leandro

Kamis, 10 Oktober 2024

PIKIR PIKIR DIPIKIR LAGI #4

 World Mental Health Day!

Selamat Hari Kesehatan Mental Sedunia! 

Butuh berapa banyak kalimat atau bahkan berapa banyak paragraf lagi yang butuh dituliskan untuk menggaungkan bahwasanya kesehatan bukan hanya tentang fisik. Kesehatan mental juga berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari. 

Narasi mengenai kesehatan mental akhir-akhir ini banyak sekali beredar, apalagi di erea modern seperti ini. Dalam era modern ini, semua manusia pasti mempunyai pemikiran yang sama, yaitu memiliki kehidupan yang lebih baik. Namun ada kalanya untuk menggapai tingkat tertinggi itu seringkali membuat orang malah merasa tertekan, cemas, atau bahkan mengalami depresi.

Perjalanan bahagia yang sedari awal telah kita jalani akan segera berakhir jika kita sebagai manusia tidak segera menata jiwa kita yang sedang terlelap dalam kesedihan tersebut. Oleh karena itulah, kesehatan mental yang stabil sangat diperlukan oleh setiap manusia dalam menjalani kehidupan. Bukan hanya dengan menjaga kesehatan fisik, kesehatan mental yang baik juga menjadi suatu faktor yang akan membangun kehidupan yang lebih berkualitas.

Dengan adanya kesehatan mental yang baik dan stabil, kita akan lebih mudah dalam membangun hubungan dengan sekitar kita. Pemikiran yang positif inilah menjadi suatu hal sangat penting terhadap hubungan sosial manusia, baik terhadap pasangan, pertemanan, orang tua, dan masih banyak lagi. 

Kunci utama agar kita semua tetap memiliki kesehatan mental yang stabil adalah dengan tetap berpikiran positif. Penalaran yang kritis masih tetap dibutuhkan dalam kehidupan umat manusia. Apalagi kita hidup di zaman modern yang segala sesuatu selal berhubungan dengan internet. Seringkali segala hal yang kita simak, saksikan, dan nikmati di internet inilah menjadi sebuah virus bagi tubuh kita. Kemudahan akses informasi, komunikasi, serta hiburan yang mampu dengan mudahnya kita dapatkan melalui internet memang menjadi hal yang sangat menggiurkan. Namun, di balik segala kemudahannya tersebut, internet justru membawa sejumlah tantangan yang dapat memengaruhi setiap orang. 

Contoh paling gamblang yang dapat kita saksikan saat ini adalah pelecehan serta perundungan.

Hal yang mudah sekali dilakukan hanya dengan bermodalkan gawai dan kuota, jari manusia akan dengan sangat mudah sekali mengetik kata-kata yang tidak senonoh dan seenaknya terhadap seseorang. Seringkali hal tersebut dianggap remeh dan dijadikan lelucon dalam media sosial. 

Mungkin bagimu dan teman-temanmu kata-kata/kalimat tersebut adalah bahan lelucon yang hanya berlaku di circlemu. Namun tidak berlaku bagi orang lain, dan bisa saja ketikanmu tersebut malah dianggap sebagai hinaan untuk orang lain. Teks yang diupload dan disebarkan di dunia maya tersebut malah bisa berdampak buruk bagi korban. Akibatnya teks yang dituju terhadap seseorang tersebut bisa menjadi depresi. Ia menganggap teks tersebut berusaha menjelek-jelekkan dirinya dan akan menjadi trauma. Mungkin hal tersebut akan menjadi hal yang sepele. 

"Ah elah, chat biasa doang, kok elu marah"
"Itu mah lelucuan doang, kok dianggap serius"
"Gausah disimpan dalam hati lah... Kan cuman bercanda"

Dan kalimat sejenisnya yang terkesan menyepelekan hinaan secara online. 

Justru karena omongan seperti itulah yang membuat seseorang menjadi semakin down. Percaya diri yang awalnya hidup dalam dirinya, lama-lama menjadi pudar. Ia malah menggangap dirinya memang seburuk itu. 

Jadi waspada terhadap ketikan yang diunggah. 
Mulutmu harimaumu. 

Mungkin kalau di internet, pepatah tersebut tidak berlaku, karena kegiatan kita mnenggunakan jari. Tetapi tetaplah berhati-hati dalam ketikanmu. Waspada dalam menggunakan jarimu. 


Medan, 10 Oktober 2024



Leandro

MENULIS SEKALI DUDUK #0

Menulis sekali duduk merupakan konsep untuk diri saya sendiri yang bertujuan untuk mengasah penulisan saya. Media yang dipiih adalah blog, k...