Sejatinya manusia tak bisa berhenti berkelana.
Kok bisa ya? Sebelum beranjak tidur, kok otak saya masih muter.
Hal ini kepikiran tadi siang. Sedang naik ojol pulang ke rumah, berhenti di tengah lampu merah, disapa oleh deru angin panas dan terik matahari.
Yah, namanya kota madya. Macet bukanlah hal yang mudah dihadapi. Pelan-pelan si abang melewati rintangan agar saya sampai tujuan dengan selamat.
Ketika sedang menyelip, tak sengaja secara bersamaan sebuah mobil berbelok mengarah ke si abang.
Nasib sedang baik, kepala mobil tidak menghantam kami.
Sudah tau jalanan cukup sempit namun si pengemudi mobil masih kekeuh untuk belok cari celah.
Untungnya si abang orangnya sabaran . Dari pada meluapkan emosi ke sasaran yang salah dan tolol, mendingan lanjutin nganter penumpang.
Dari kejadian tadi, saya makin kepikiran.
Sebenarnya yang menuh-menuhin jalan siapa?
Pengemudi mobil yang tujuannya buat pergi nongkrong doang?
Atau bapak-bapak yang nganterin penumpang tadi?
Balik lagi ke persepsi masing-masing. . .
Kalau dibandingin sama dua analogi tadi, pasti yang menang anak muda pakai baju uniqlo dengan kunci mobilnya yang tujuannya cuman buat instastory speedometernya pas lampu merah.
Apalagi, si anak muda melek teknologi. Pasti merasa punya kuasa.
Ya sebenarnya gak spesifik kaya begitu. Tapi kalau anak muda sekarang dikasih kunci mobil, pasti egonya kesenggol. Tiap hari keluar nongkrong biar dicap anak edgy dan keren, padahal mah menuh-menuhin jalan.
Setiap hari di jalanan pasti macet, dan rata-rata didominasi oleh pengemudi mobil.
Survei saja sendiri di jalanan berapa banyak mobil yang melintas setiap hari.
Alasan orang mengendarai mobil pasti bilang biar efisien, kemana-mana gampang, bla-bla-bla....
Tapi jujur ya, pengendara mobil adalah orang egois.
Semua orang memang egois, tapi pengendara mobil jauh lebih egois.
Coba bayangkan, emang ada pengendara mobil yang mau biarin orang lalu lalang di depan dia demi arus kembali lancar sedangkan dirinya terjebak kemacetan?
Enggak semuanya mau ngelakuin itu.
Apalagi kalau didalamnya ada pengusaha yang sedang diburu waktu untuk meeting kantornya, tapi malah terjebak macet. Pasti supirnya didorong buat ngebut biar on time.
Kita kembali saja ke realita, bahwasanya memang banyak orang yang lebih suka mengendarai mobil.
Ketika di jalanan lah dapat terbukti siapalah orang tolol dan siapa orang pintarnya.
Namanya kehidupan jalanan, semua hal mungkin bisa terjadi.
Kalau sudah membahas soal ego, tiap-tiap orang mana bisa dilawan?
Tapi jika naik mobil, kita kan lebih aman. Di dalam dingin lohh, ada AC-nya. Apalagi kalau sedang macet kita gabakalan stress karena bisa sambil dengerin lagu atau podcast. Ya tapi jangan ngamuk kalau bahan bakar naik.
UPS!
Jumat, 16 Desember 2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar